Tes Buta Warna
Ikuti tes buta warna online dengan peringkat terbaik di butawarnates.id. Deteksi dengan cepat potensi gangguan penglihatan warna dan ketahui apakah Anda mengalami buta warna—semuanya dalam waktu kurang dari 2 menit!
Sebelum Memulai Tes Buta Warna
- Tes ini menampilkan serangkaian pelat Ishihara, yang masing-masing memuat angka-angka yang tersembunyi di dalam pola titik-titik berwarna. Untuk lulus tes ini, Anda harus mengidentifikasi dengan benar angka-angka yang tertera pada pelat-pelat tersebut.
- Lepaskan kacamata atau lensa kontak dengan filter berwarna sebelum memulai. Tes ini harus dilakukan dengan mata telanjang untuk memastikan hasil yang akurat.
- Atur tingkat kecerahan layar Anda ke posisi tinggi, karena pencahayaan yang redup dapat mengganggu kemampuan Anda dalam membedakan warna secara akurat.
- Untuk hasil terbaik, kerjakan tes ini di layar yang lebih besar, seperti tablet atau laptop, alih-alih perangkat seluler yang kecil.






Apa sebenarnya buta warna itu?
Buta warna adalah kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan membedakan warna-warna tertentu, biasanya merah, hijau, biru, atau campuran dari warna-warna tersebut.
Dalam kasus yang sangat jarang terjadi, seseorang bisa kehilangan kemampuan untuk melihat semua warna; kondisi ini disebut monokromasi. Banyak orang mengira hal ini berarti dunia hanya terlihat hitam-putih, namun kenyataannya tidak selalu demikian. Buta warna memiliki berbagai jenis dan tingkat keparahan.
Survei menunjukkan bahwa sekitar 8% pria dan hanya 0,5% wanita mengalami suatu bentuk buta warna.
Bagaimana cara kerja tes buta warna?
Tes ini dirancang untuk mengukur kemampuan seseorang dalam mengenali dan membedakan berbagai warna. Bentuk buta warna yang paling umum adalah buta warna merah-hijau, di mana individu kesulitan membedakan antara nuansa warna merah dan hijau. Jenis lainnya mencakup buta warna biru-kuning serta buta warna total (akromatopsia), kondisi di mana kemampuan mempersepsikan warna hilang sepenuhnya.
Salah satu tes paling terkenal untuk mendeteksi buta warna adalah Tes Warna Ishihara, yang dikembangkan oleh Dr. Shinobu Ishihara. Tes ini menggunakan serangkaian lempengan, yang masing-masing menampilkan lingkaran yang terdiri dari titik-titik berwarna. Di dalam titik-titik tersebut, terdapat angka atau bentuk yang tersembunyi dengan warna yang kontras. Orang dengan penglihatan warna normal dapat dengan mudah mengenali gambar tersembunyi tersebut, sedangkan individu dengan gangguan penglihatan warna mungkin kesulitan mengidentifikasinya atau justru melihat gambar yang sama sekali berbeda.
- Identifikasi Angka atau Bentuk: Pelat-pelat tersebut menampilkan pola titik-titik berwarna yang disusun untuk membentuk angka atau bentuk tersembunyi.
- Gangguan Penglihatan Warna: Seseorang dengan gangguan penglihatan warna mungkin kesulitan melihat atau mengenali angka maupun bentuk yang tersembunyi karena warna latar belakang dan gambar yang tersemat di dalamnya tampak terlalu mirip untuk dibedakan.
- Diagnosis: Berdasarkan respons seseorang dan kemampuannya mengenali angka atau bentuk yang tersembunyi, tes ini dapat membantu menentukan jenis maupun tingkat keparahan gangguan penglihatan warna.
Jenis tes buta warna lainnya mungkin mengharuskan seseorang untuk menyusun warna dalam urutan tertentu, mencocokkan warna yang serupa, atau mengidentifikasi warna dalam berbagai kondisi pencahayaan. Metode-metode ini memungkinkan para profesional untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai tingkat maupun karakteristik gangguan penglihatan warna yang dialami seseorang.
Jenis dan Tingkat Buta Warna
1. Tipe Merah-Hijau
Buta warna jenis merah-hijau adalah yang paling umum terjadi dan biasanya bersifat diturunkan. Kondisi ini terjadi ketika pigmen sel kerucut merah atau hijau mengalami kerusakan atau berfungsi secara tidak normal. Terdapat empat subtipe dari kondisi ini:
- Protanomali – Kondisi ini terjadi akibat kelainan pada pigmen sel kerucut merah. Akibatnya, nuansa warna merah, oranye, dan kuning mungkin tampak seperti hijau dan sering kali terlihat kurang cerah dibandingkan warna aslinya. Meskipun dapat dirasakan dampaknya saat melakukan aktivitas yang melibatkan pengenalan warna, kondisi ini umumnya tergolong ringan dan tidak berdampak signifikan terhadap kehidupan sehari-hari.
- Protanopia – Pada jenis ini, pigmen sel kerucut merah berhenti berfungsi, sehingga warna merah tampak sebagai hitam. Nuansa warna oranye, kuning, dan hijau tertentu semuanya dipersepsikan sebagai variasi warna kuning. Untuk membantu diagnosis, beberapa ahli mata menggunakan tes buta warna terbalik, di mana pasien diminta mengidentifikasi objek berwarna di tengah latar belakang dinamis yang terdiri dari berbagai warna.
- Deuteranomali – Ini adalah jenis buta warna yang paling umum ditemukan pada manusia. Kondisi ini terjadi akibat kelainan pada pigmen sel kerucut hijau. Akibatnya, warna kuning dan hijau mungkin tampak seperti merah, sementara warna ungu dan biru sulit dibedakan. Kondisi ini umumnya tergolong ringan dan biasanya tidak memengaruhi aktivitas sehari-hari.
- Deuteranopia – Pada jenis ini, pigmen sel kerucut hijau berhenti berfungsi. Akibatnya, warna merah sering kali dipersepsikan sebagai kuning kecokelatan, sedangkan warna hijau tampak sebagai kuning tua.
2. Tipe Biru-Kuning
Buta warna jenis biru-kuning jauh lebih jarang terjadi dibandingkan jenis merah-hijau. Kondisi ini terjadi ketika pigmen sel kerucut biru (triton) tidak ada atau berfungsi secara tidak normal. Kategori ini terbagi menjadi dua subjenis:
- Tritanomaly – Pada subtipe ini, pigmen kerucut biru berfungsi pada tingkat yang berkurang. Akibatnya, warna biru mungkin tampak seperti hijau, dan sulit untuk membedakan warna merah muda dari warna kuning serta merah.
- Tritanopia – Penderita tritanopia sama sekali tidak memiliki sel kerucut pendeteksi warna biru. Pada kondisi ini, warna biru dipersepsikan sebagai hijau, sedangkan warna kuning sering kali tampak sebagai ungu atau cokelat muda.
3. Tipe Total (Monokromasi)
Orang dengan buta warna total (monokromasi) sama sekali tidak dapat melihat warna dan hanya melihat dunia dalam nuansa abu-abu. Dalam banyak kasus, ketajaman penglihatan mereka secara keseluruhan juga berkurang. Terdapat dua jenis utama monokromasi:
- Monokromasi kerucut – Pada kondisi monokromasi kerucut, dua atau ketiga pigmen sel kerucut tidak berfungsi. Karena otak memerlukan sinyal dari berbagai jenis sel kerucut untuk membandingkan dan mempersepsikan warna, penderita kondisi ini kesulitan membedakan berbagai corak warna. Ketika hanya satu jenis sel kerucut yang berfungsi, penglihatan warna yang akurat tidak dapat tercapai.
- Monokromasi Sel Batang – Monokromasi sel batang (akromatopsia) merupakan kondisi bawaan sejak lahir yang terjadi ketika tidak ada satu pun pigmen sel kerucut yang berfungsi. Penderita kondisi ini melihat dunia hanya dalam warna hitam, putih, dan berbagai gradasi abu-abu. Mereka sering kali mengalami fotofobia, yaitu rasa sangat tidak nyaman saat terpapar cahaya terang, sehingga lingkungan yang cerah menjadi situasi yang sangat menantang bagi mereka.
Apa kegunaan tes buta warna?
Terdapat profesi-profesi tertentu yang mewajibkan lulus tes penglihatan warna. Dalam karier semacam itu, pemberian lisensi atau penentuan kelayakan bergantung pada kemampuan membedakan warna secara akurat, karena pengenalan warna yang tepat sangatlah penting bagi keselamatan dan kinerja.
- Pilot – Pengendali Penerbangan: Dalam industri penerbangan, lulus tes penglihatan warna sering kali menjadi persyaratan wajib. Kemampuan mengenali warna secara akurat sangatlah penting untuk mengidentifikasi lampu penerbangan, sinyal, dan informasi visual vital lainnya yang diperlukan guna menjamin keselamatan selama operasi berlangsung.
- Teknisi Listrik: Bagi teknisi listrik, kemampuan untuk mengidentifikasi kabel dengan kode warna secara tepat sangatlah penting. Karena warna kabel digunakan untuk menunjukkan fungsi tertentu dan standar keselamatan, teknisi listrik diwajibkan lulus tes penglihatan warna guna mencegah kesalahan dan menjamin keselamatan.
- Tenaga Medis: Beberapa tenaga medis juga diwajibkan lulus tes penglihatan warna, terutama jika pekerjaan mereka melibatkan penafsiran hasil diagnostik—seperti membaca sampel darah, memeriksa preparat jaringan, atau mengidentifikasi tanda-tanda visual yang bergantung pada pengenalan warna secara akurat.
- Desain Grafis: Profesi yang sangat bergantung pada warna, seperti desain grafis, mungkin juga mensyaratkan tes penglihatan warna. Desainer perlu membedakan dan menerapkan warna secara akurat demi memastikan kualitas, presisi, dan dampak visual dari karya mereka.
LENSA, KACA MATA, DAN FILTER WARNA
Ahli kacamata dapat menyediakan kacamata atau lensa kontak dengan pewarnaan khusus—seperti lensa berwarna merah tunggal atau lensa dengan bercak warna—untuk meningkatkan persepsi warna. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan penglihatan warna terjadi ketika kelainan pada sel kerucut menyebabkan tumpang tindih panjang gelombang cahaya, sehingga menyulitkan seseorang untuk membedakan warna. Lensa berwarna ini membantu dengan cara meningkatkan kontras, yang memungkinkan individu untuk mempersepsikan warna-warna tertentu secara lebih akurat.
Lensa ini menggunakan filter khusus untuk mengurangi tumpang tindih panjang gelombang, sehingga memungkinkan pengguna mengenali warna dengan lebih akurat. Selain memperbaiki penglihatan, kacamata semacam ini menawarkan berbagai manfaat praktis dalam kehidupan sehari-hari—misalnya, saat memilih pakaian dengan warna dan motif yang serasi. Kacamata ini juga dapat mendukung pengembangan karier di bidang yang sangat bergantung pada persepsi warna, seperti desain grafis atau pekerjaan kelistrikan, yang menuntut kemampuan membedakan warna secara akurat.
PENAFIAN
Tes buta warna ini dirancang hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Hasil tes tidak dijamin sepenuhnya akurat dan tidak boleh dianggap sebagai saran medis, diagnosis, atau pengobatan profesional. Jika Anda menduga memiliki gangguan penglihatan warna, silakan lakukan pemeriksaan menyeluruh oleh tenaga profesional kesehatan mata yang berkualifikasi.